Kamis, 18 Februari 2016

Penyesalan Pohon Manggis Muda

Assalamu'alaikum wr.wb.
                 Hay teman-teman, apa kabar kalian semua? saya harap kalian semua baik-baik saja. Pada kali ini saya berkesempatan mengeluarkan imajinasi saya dalam sebuah cerita, semoga kalian semua dapat menikmati apa yang telah saya buat ini. Cerita-cerita ini penuh dengan khayalan dan tidak nyata. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam blog ini, karena di dini saya masih dalam proses belajar.
Selamat membaca semoga bermanfaat untuk kalian semua.  

Penyesalan Pohon Manggis Muda  
        
            Di halaman rumah Agus yang tidak seberapa luas, tumbuh dua batang pohon manggis yang sedang berbuah. Pohon manggis tua yang sudah puluhan kali berbuah, hasil buahnya sudah tidak bagus lagi. Kulit buahnya berwarna hijau berbintik-bintik cokelat. Sementara pohon manggis muda yang baru pertama kali ini berbuah, hasil buahnya sangat bagus. Kulit   buahnya hijau mulus.
           Pohon manggis muda yang belum berpengalaman merasa bangga setiap ada yang memuji buahnya. Dia akan dengan senang hati memamerkan kulit buahnya yang hijau halus itu dengan mengayun-ayunkan buahnya seiring angin bertiup. 
           Agus tidak puas-puasnya memandangi kedua pohon manggisnya yang sedang berbuah lebat tersebut. "Panen kali ini pasti akan lebih banyak lagi, karena kedua pohon ini sama-sama berbuah", pikir Agus, anak lelaki yang baru sekolah dasar dengan sukacita. "Buahnya lebat ya, mas Agus?" sapa Dedy tetangga baru di sebelah rumahnya yang baru duduk di kelas 2 SD."Lumayan jika dibandingkan dengan musim buah tahun lalu". "Yang sebelah sana itu, buahnya hijau bagus. Kok yang ini kotor berbintik-bintik ya, mas? Apa jenisnya nggak sama?" Tanya Dedy yang memang baru pertama kali melihat buah manggis langsung dari pohonnya. "Sebenarnya sama saja mungkin karena yang ini sudah tua, sementara yang itu baru pertama kali ini berbuah." Jelas Agus sambil menunjuk kedua pohon manggisnya.
             "Yang itu, buahnya cantik ya, mas?. Seperti buah Apel Manalagi saja. Tadinya, saya kira buah apel, lho." Mendengar kata cantik untuk memuji buahnya, pohon manggis muda langsung mengayun-ayunkan buahnya dengan perasaan bangga. "Sebentar lagi panen ya, mas? Tanya si Dedy lagi." Masih agak lama. Nanti kalau kulit buahnya sudah berubah coklat, baru bisa dipanen."
               "Hahh.........?! Jadi cokelat hitam?! Kulit buahku yang hijau mulus ini akan berubah jadi coklat hitam?!" Teriak pohon manggis muda spontan. "Ya...... iyalah, kalau kulit buah kita sudah berubah jadi coklat hitam, berarti sudah bisa dipetik karena buah kita sudah terasa manis. Makanya kita mendapat sebutan, buah si Hitam manis." Jelas pohon manggis tua yang sudah jauh berpengalaman.
                 " Jadi Hitam? Ahhh... nggk, ah. Aku gak mau kulit buahku yang hijau cantik ini berubah menjadi hitam. Pokoknya, aku gak mau. Apapun yang terjadi, kulit buahku harus tetap berwarna hijau!" Pohon Manggis muda ngotot supaya kulit buahnya tetap hijau dan tidak berubah jadi cokelat hitam.
                  Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tibalah saat yang ditunggu. Buah di pohon manggis tua sudah mulai berwarna cokelat hitam dan siap untuk dipanen. "Ehm... manis sekali. Moga-moga saja, buahnya yang itu semanis yang ini" kata Agus sambil memandangi pohon manggis muda. "Ya... enak.... ,manis. Aku minta lagi ya, mas?" Kata Dedy dengan mulut penuh biji manggis. "Jangan kawatir, masih ada satu pohon lagi". Jawab Agus sambil menunjuk pohon manggis muda. "Kok buah pohon yang itu masih hijau ya, mas?" tanya Dedy pada Agus."Mungkin karena baru pertama kali berbuah. Jadi agak lama menghitamnya", jawab Agus.
                 "Menghitam?! Jangan berharap kulit buahku yang hijau cantik ini akan berubah jadi hitam! Aku tidak akan pernah membiarkan kulit buahku jadi hitam sampai kapanpun. Karena hitam itu jelek! Bagusan hijau muda, cantik kan?!". "Itu menentang kodrat namanya. Kita memang sudah ditakdirkan untuk memiliki buah yang manis tapi dengan kulit buah yang hitam". Pohon manggis tua dengan sabar mengingatkan pohon manggis muda. "Tidak mau! Tidak mau! Tidak mau! Pokoknya aku tidak mau kulit buahku menjadi hitam. Aku mau tetap hijau! Titik!" teriak pohon manggis muda. Pohon manggis muda tetap ngotot mempertahankan kulit buahnya agak tidak berubah menjadi hitam.
                 Saat musim buah berlalu dan berganti dengan musim semi, buah di pohon manggis muda mulai mengeriput dan mengering. "Apa yang terjadi dengan buahku? Mengapa jadi keriput dan mengering?" teriaknya kebingungan. "Karena musim buah telah berlalu dan berganti menjadi musim semi," Jelas pohon manggis tua yang lebih berpengalaman." Terus bagaimana dengan buahku?". "Yaa........, akan mengering dan berguguran". "Tanpa bisa dimakan?" tanya pohon manggis muda. " Yaa....... begitulah". 
                  Pohon manggis muda hanya bisa menatap buah-buahnya yang menjadi keriput, kering dan mulai berjatuhan. Tidak ada lagi rasa bangga di hatinya. Yang tersisa hanyalah rasa sesal karena telah menentang kodrat. Sejak saat itu, pohon manggis muda berjanji untuk membiarkan buahnya tumbuh dan berubah menjadi hitam. Karena dia adalah buah si Hitam Manis. 

Asal Mula Tanduk Kambing

Asal Mula Tanduk Kambing 
            Pada zaman Nabi Nuh a.s., saat itu Anjing memiliki tanduk di kepalanya, dan Kambing tidak memiliki tanduk dan ekornya panjang seperti ekor monyet. Mereka bersahabat dan berteman baik. Mereka berdua sangat akrab, kemana Anjing pergi si Kambing selalu ada di dekatnya, begitu pula sebaliknya. Kemana Kambing pergi si Anjing selalu ada di dekatnya. Mereka pun saling berbagi dan bertukar makanan. Selain itu mereka juga saling bertukar pengalaman dengan gembira.
                 Pada suatu hari, Anjing dan Kambing berencana untuk membuat rumah mereka sendiri. Mereka membuatnya dari kayu dan jerami. Rumahnya sangat mungil dan letaknya berdekatan. Setelah mereka selesai membuat rumahnya, mereka bermain bersama di lapangan, lalu mereka beristirahat di taman sambil makan. Setelah itu si Kambing merasa ngantuk dan ingin pulang ke rumah. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan rasa lelah. Kambing berkata, "Hoaahh...ngantuk aku pulang dulu yah! O yah, tolong besok pagi aku dibangunkan, supaya bisa ikut lari pagi denganmu!", si Anjing pun menjawab, "Beress..!!!". Pagi harinya, mereka lari pagi dengan gembiranya. Kambing berterimakasih kepada Anjing dengan berkata "Ahh..segarnya udara pagi ini, terimakasih yah kami mau mengajakku lari pagi. Tadinya aku pikir kamu tidak akan membangunkanku!", Anjing berkata, "Kalau sudah janji harus kita tepati". 
                 Suatu hari, Kambing melihat hewan-hewan yang lain yang sedang mengerubuni sesuatu ,yang membuatnya penasaran.  Si Kambing mendekat dan melihatnya. Kambing akhirnya tahu bahwa,"Wah, rupanya sahabatku si Anjing sedang di kagumi oleh hewan-hewan di hutan ini, Aku ingin juga seperti dia". Mendengar pujian yang dilontarkan kepada sahabatnya itu, dia merasa kesal sambil berjalan pulang. Lalu dia menutuppintu rumahnya dengan keras. Siang itu, tampak pak monyet sedang berkeliling dan mampir ke pondok si Kambing. Ternyata pak monyet itu memberikan kartu pesta ualang tahun Monyet nanti malam. Kambing pun berjanji akan datang dan bergembira di sana. Setelah pak Monyet pergi, Kambing berpikir bahwa dia akan meminjam tanduk si Anjing, karena dia ingin tampil gagah dan dipuji karena tanduknya itu. Selain itu, dia juga tahu bahwa Anjing tidak akan datang ke pesta karena Anjing sedang tidak enak badan. 
                Si Kambing pun menemui Anjing yang sedang asik membaca buku. Dia pun berkata,"Sahabatku, bolehkah aku meminjam tandukmu? Untuk aku kenakan di acara pesta pak Monyet. Aku ingin tampil gagah di pesta itu!" Si Anjing yang baik itu menjawab,"Boleh! Ambillah! Tapi jangan lama-lama yaa ........!!! Sehari ini saja!!!!" Si Kambing berkata kembali,"Ok! Aku pergi dulu yaa..... !". Sepanjang perjalanan menuju ke pesta, si Kambing terus mengagumi tanduk pinjamannya. Dia tak henti-henti bernyanyi. 
                Keesokan harinya, si Kambing tidak muncul-muncul dan si Anjing pun menunggu sampai esok hari. Hari berikutnya masih sama seperti kemarin, tapi Anjing masih sabar menunggu. Kemudian setelah satu minggu berlalu, kesabaran si Anjing habis dan langsung menuju ke pondok si Kambing. Setelah melihat ke dalamnya, si Kambing tidak ada  dan membuat Anjing semakin marah. Dia mencari kemana-mana dan akhirnya dia menemukan si Kambing yang sedang memamerkan tanduknya kepada burung.  Si Anjing langsung meloncat dan memarahi si Anjing dengan suara yang keras dan lantang. Si Kambing langsung melarikan diri karena malu. Dan si Anjing berlari dengan lebih cepat sampai ekor kambing yang panjang itu pun digigit dan di tariknya. Begitu juga Kambing, dia terus menarik tubuhnya sehingga ekornya putus dan menjadi pendek
                Si Kambing terus berlari menjauhi si Anjing, sementara itu si Anjing kebingungan dan dia pun pulang ke rumah dengan hati kesal. Akhirnya, sejak saat itu Kambing memiliki tanduk dan ekor yang pendek, dan Anjing tidak lagi bertanduk.

                 

Selasa, 16 Februari 2016

Kota Emas Yang Hilang

Kota Emas yang Hilang

                 Pada zaman dahulu, di suatu pulau bernama Happyland terdapat tiga anak pemberani dan tangguh yang bernama Stafi, Kabi, dan Gracia. Mereka tinggal di suatu persembunyian di bawah tanah yang penuh dengan jebakan.
                 Pada suatu malam, Stafi melihat sebuah bintang yang sangat terang dan terlihat berbeda dari bintang yang lain. Bintang yang seperti itu sering disebut Bintang Malam Happyland. Setelah melihat bintang yang cantik itu. Mereka teringat pada sebuah misteri yaitu kota emas yang hilang . Mereka pun berniat akan mencari tahu kebenaran tentang kota tersebut . Mereka pergi ke sana hanya untuk mencari tahu kebenarannya dan hanya untuk menghibur diri . Mereka pun bersiap siap untuk pergi . Menurut legenda , untuk menemukan kota emas itu , mereka harus mengikuti cahaya dari bintang malam tersebut . Seperti biasanya , sebelum mereka berangkat, mereka selalu bernyanyi untuk menghibur diri mereka sendiri. Tetapi di sisi lain, ada juga orang lain yang ingin pergi ke kota emas yang hilang tersebut. Dia adalah seorang kapten bersama anak buahnya. Mereka ingin ke sana dengan niat yang buruk, yaitu ingin mengambil emas-emas yang ada di sana.   
                 Jalan yang ditempuh oleh Stafi dan teman-temannya berbeda dengan yang ditempuh oleh kapten rakus. Ternyata  jalan yang ditempuh kapten rakus itu lebih cepat sehingga dia yang lebih dulu sampai di tepi sungai yang bernama Sungai Ular, karena sungai tersebut penuh dengan ular. Di atas sungai itu terdapat sebatang kayu yang digunakan sebagai jembatan. Setelah kawanan kapten rakus itu melewatinya mereka menendang batang kayu itu ke sungai, sehingga kapten kecil tidak bisa melewatinya. Setelah kapten kecil sampai di Sungai Ular, mereka bingung bagaimana caranya untuk melewati sungai tersebut. Lalu Gracia melihat sebuah pohon palem yang melengkung di tepi sungai. Dia pun mendapat ide untuk memanjat pohon itu dan meloncat ke tepi sungai yang lain.
                 Setelah itu, si kapten rakus sampai di Lembah Kegelapan, tempat tersembunyinya kota emas tersebut. Karena mempunyai niat buruk, dia pun melakukan berbagai cara agar kapten kecil tersesat di perjalanan, sehingga dia menutup semua petunjuk yang ada. Termasuk menghilangkan pantulan cahaya dari bintang malam tersebut. Tetapi malah dia sendiri yang tersesat di lembah kegelapan tersebut. Namun, kapten kecil itu pintar dan mereka mengetahui apa yang terjadi. Sehingga mereka memperbaikinya sehingga dapat melihat kembali cahaya bintang malam. Lalu mereka masuk ke dalam sebuah gua dengan mengikuti cahaya. Cahaya itu berhenti dan menyinari sebuah tanaman rambut. Mereka bingung kenapa cahaya itu bisa berujung di tanaman rambat dan tidak menemukan kota emasnya.
                   Mereka hampir putus asa dan menganggap bahwa kota emas itu memang tidak ada dan akan seperti namanya yaitu akan selalu menghilang. Tetapi salah satu dari mereka yakin dan mencoba mencari tahu apa yang ada di dalam tanaman rambat itu. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah kristal yang dapat memantulkan cahaya, dan menyinari suatu bangunan di depannya, sehingga terlihat seperti emas. Setelah itu datanglah si kapten rakus yang akan mengambil emas-emas itu.Kapten kecil itu menjelaskan bahwa itu bukan kota emas, melainkan hanya bangunan dulu yang terlihat seperti emas karena mendapat sinar daribintang malam Happyland. Tetapi kapten rakus itu tetap bersikeras untuk mengambilnya. Untung saja Gracia mempunyai debu ajaib yang dapat membuatnya terbang. Sehingga mereka membawa kapten rakus dan kawanannya kembali kepulau Happyland. Kapten rakus itupun merasa kesal dan kecewa.
                   Kapten kecil itu pun merasa senang karena dapat melihat kota emas yang hilang itu. Kabi pun menyanyi untuk berterima kasih kepada bintang malam Happyland karena sinarnya yang sangat indah dan terang.    
                   
 Teman-teman, semoga setelah membaca cerita di atas kita dapat mengambil pelajaran dan nilai-nilai positif yang terkandung dalam cerita fiksi di atas. Terima Kasih. 
 Wassalamu'alaikum  wr.wb.